Ayahku Seorang Buruh

Ayahku Seorang Buruh

Ayahku Seorang Buruh

 

Aku bukanlah orang yang suka menguping percakapan orang lain.

Tapi malam itu, saat aku melintasi halaman rumah kami sepulang bekerja, aku ternyata melakukannya. Waktu itu aku dengar anak bungsu kami sedang berbicara kepada istriku. Anakku bercerita kalau di sekolah, beberapa anak menyombongkan pekerjaan ayah mereka yang para eksekutif hebat. Lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami, “Ayahmumu memiliki karier yang hebat seperti apa?” Anakku menjawab, “Ia hanya seorang buruh biasa”.

Setelah hening sejenak

kudengar istriku berkata seraya mencium pipinya yang berlesung pipit, “Mama ingin bicara kepadamu. Papamu memang hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi Mama ragu, apakah kamu tahu apa arti yang sebenarnya, jadi Mama akan menjelaskan padamu.”

Istriku melanjutkan

“Dalam seluruh industri dan kontruksi yang membuat negeri kita hebat, ingatlah anakku kalau itu semua memerlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikannya. Kalau misalnya semua bos meninggalkan meja mereka untuk berlibur selama sebulan, roda industri masih bisa berjalan dan berputar dengan cepat. Tapi jika semua orang seperti papamu berhenti bekerja selama sehari saja, maka industri itu macet, karena diperlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar seperti itu!”
Saat aku membuka pintu, kulihat mata putra kecil kami nampak berbinar gembira sambil melompat dari kursi kayu dan memelukku, “Hai Pa, Boby bangga jadi anak Papa, karena Papa adalah salah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”

Baca Juga :